oleh

Bencana Sulteng, Festival Nomoni, Pariwisata dan Keyakinan

Opini :

PAREPARE, Cyberpare.com — Bencana Alam Provinsi Sulawesi Tengah, berupa Gempa Magnetindo 7,4 Jum,at 28 September 2018 lalu melanda Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah, memicu munculnya Tsunami berkekuatan 800 KM Kekuatan Air Tsunami, (versi BMKG) yang menerjang Kawasan Pantai Talise dan sekitarnya dalam Hitungan Menit. lalu memunculkan Likuifaksi (Penomena pencairan tanah) yang menerjang kampung Petobo dan Perumahan Balaroa Kota Palu Sulteng, hingga kawasan perumahan padat penduduk ini sebagian hilang ditelan Bumi.

Bencana Alam ini, memunculkan Bencana Kemanusiaan yang kompleks saat ini, Data.BMKG mencatat hingga hari ke 6 (Rabu, 3 Oktober 2018) pasca bencana, tercatat 1.374 Jiwa, 113 Hilang, 59.450 Jiwa pengungsi di Beberapa titik.483 mayat dimakamkam Massal, dan 191 dimakamkam keluarga korban, Titik pengungsian tertentu yang sulit dijangkau mengakibatkan Distribusi logistik bantuan tidak merata dibagikan, dampaknya sejumlah Pengungsi ada yang belum tersentuh.

Bencana Alam di Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kota Palu, sejumlah pihak mengaitkan dengan Festival Palu Nomoni yang akan digelar pihak Pemerintah Daerah Kota Palu sebagai rangkaian HUT Kota Palu.

Nomoni, merupakan salah satu ritual kepercayaan Adat masyarakat Lokal, yang belakangan kadang dikemas dalam event Pariwisata Daerah, seiring program Pariwisata Pemerintah. Bahkan dalam satu Literatur, festival Nomoni di Sulteng masuk dalam 100 Wonderful Events Kementerian Pariwisata.

Berbagai literatur mengisahkan, Ritual yang dikemas dalam Festival Nomoni sendiri, telah mengakar di masyarakat Palu. Usianya pun sudah ratusan tahun, Ada ritual Jinja, Pompaura, Mansalei, Salonde, Mamiri Viata, Moraro hingga ritual Salonde Ronda siap disuguhkan, salah satu Ritual yang dikemas dalam Festival Nomoni berupa memanggil roh-roh halus, hingga penyembelihan se Ekor kerbau sebagai bahagian ritual ini.

Ada yang menilai Jika Bencana ini sebagai bentuk kemurkaan Maha Pencipta, itu dihubungkan dengan Waktu kejadian Bencana Alam Sulteng
28 – 9 – 2018 yang jika dijumlahkan (28 + 9 = 37)

Sebagai mana dijelaskan Dalam Al,Quran surat Al-Ankabut ayat 37 Allah  berfirman tentang gempa bumi

“Maka mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka”

Ayat 36 Dalam surah ini, pun menjelaskan  “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka (yaitu) Syu’aib. Maka ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) di hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.”

Terlepas dari Festival Nomoni, di Indonesia diketahui ada Beberapa suku memiliki Adat dan Budaya yang berbeda, Salah satu Daerah di Jawa juga melakukan ritual adat Melarung dihari besar tertentu, di Sulsel ada ritual Maccera Tappareng, Mappanre Tasi, dan beberapa daerah lain di Indonesia juga memiliki Budaya yang dianggap Sakral di daerahnya masing masing dan itu dikemas dalam bentuk kegiatan Wisata yang memicu pertumbuhan ekonomi warga setempat.

Berbagai Budaya dan acara adat ini, banyak dilakukan Masyarakat Indonesia sebagai Kepercayaan yang turun temurun dari Pendahulu Mereka, Mereka pun mengaggap itu Kepercayaan dan adat yang mesti dilestarikan.

Secara Administrasi,  Mahkamah Agung, di awal 2018 lalu, membolehkan Aliran Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa, bisa dicatat dalam Kolom Agama Catatan Kependudukan, bagi warga Negara Indonesia yang mengakui Keyakinanya itu. Tentunya ritual ritual dan adat yang dianut boleh dilakukan bagi mereka penganutnya dan Itulah Keberagaman.

Lalu apakah semua ini berkaitan..?? Semua Berhak atas Pengakuan Terhadap Tuhan YME.hanya cara dan prosesnya yang berbeda. Keberagaman yang ada di Indonesia, harusnya menjadi pemersatu dalam bencana Kemanusiaan ini, Saling  membantu. Mereka Berduka, Saatnya Merangkul Mereka, Menuju Perubahan dan Kembali Berbenah dan Bangkit#DukamuDukaku#DukaKita#DukaIndonesia#Hari ke 6 Bencana Alam Palu, Sigi dan Donggal#2018#

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *