oleh

Dehijabisasi, Arus Sesat Liberalisasi

-BERITA, OPINI-370 views

Tulisan Opini Singkat oleh : Hefrida Ruslan

Qs. An Nuur : 21
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,..”
QS. Al – Ahzab : 59
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tren hijab, bukti perkembangan dakwah
Luar biasa geliat perkembangan dakwah terkait kewajiban menutup aurat bagi muslimah dengan pakaian syar’i, hingga sepuluh tahun terakhir ini. Di mana-mana sekarang ini, terlihat banyak muslimah mengenakan jilbab dan kerudung di berbagai tempat umum.

Tak lagi risih atau merasa kuno, karena pakaian muslimah syar’i ini telah digunakan oleh muslimah secara umum. Perkembangan dakwah ini juga ditandai dengan banyaknya selebriti hijrah yang kemudian banyak dicontoh oleh para penggemarnya.

Dakwah jilbab dan kerudung di Indonesia telah melalui perjalanan panjangnya hingga bisa berterima oleh masyarakat. Perjuangan dakwah telah mengambil banyak peran ulama dan ormas Islam semacam NU, Muhammadiyah, Al irsyad, dan Persis yang dengan gigih menanamkan kesadaran berjilbab di masyarakat, perlahan tapi pasti, mampu mengubah rupa wanita Indonesia dalam teduhnya kemuliaan jilbab.

Perjuangan dakwah jilbab ini juga terasa sangat beratnya pada masa orde baru, yang pada masa itu pemerintah begitu sangat represif terhadap Islam. Saat itu, ada upaya pelarangan penggunaan jilbab bagi siswi di sekolah. Penggunaan jilbab bahkan diduga terkait sebuah gerakan politik. (jejakislam.net).

Menolak jilbab, pemikiran sesat liberal
Ketika sebuah pemikiran Islam tengah banyak diemban oleh masyarakat, menimbulkan sebuah kekhawatiran tersendiri bagi para pengemban ideologi kapitalisme liberal, sebuah ideologi yang diametral dengan Islam. Ada kekhawatiran jika berkembangnya pemikiran Islam akan dapat menggeser ide liberal yang telah disuntikkan di masyarakat.

Maka, mereka berusaha mencari cara agar ide liberal tetap diemban oleh masyarakat muslim, agar kepentingan politik kapitalisme tetap jalan.

Salah satu cara itu adalah “membeli” tokoh umat untuk menjadi corong pemikiran liberal. Tokoh umat ini akan berbicara Islam yang bisa berakomodasi dengan nilai-nilai liberal, dengan nama Islam moderat. Begitupun ketika bicara tentang jilbab.
Ibu Shinta Nuriyah, istri almarhum Presiden ke-4 Gusdur, dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Deddy Corbuzier (15/01/2020), menyatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Juga mengutip contoh bahwa RA Kartini dan para istri Kyai NU terdahulu tidak menutup aurat secara sempurna.

Hal ini tak mengherankan, mengingat beliau adalah seorang penggiat pluralisme dan kesetaraan gender yang mana itu adalah produk pemikiran kapitalisme liberal. Seorang pemikir gender tak hanya menolak jilbab, mereka juga bahkan merasa tak perlu diurusi dalam masalah berpakaian, apakah itu menutup aurat atau tidak, itu adalah hak pribadi yang tak boleh diganggu.

Dalam menjalankan syariat Allah swt, seorang muslim wajib bersandar pada apa yang telah ditetapkan pada AlQur’an dan AsSunnah, bukan pada praktik orang terdahulu atau tokoh-tokoh tertentu.
Rasulullah memerintahkan setiap muslimah keluar rumah dengan memakai jilbab, bahkan bila seorang muslimah tidak memiliki jilban, maka sesama muslimah harus meminjamkan jilbabnya. Ini juga bisa bermakna bahwa Rasulullah sebagai kepala Negara turut mengatur bagaimana agar setiap muslimah menjalankan kewajiban memakai jilbab.

Kemudian, muncul pula ustadz Miftah dalam laman redaksiindonesia.com (17/01/2020), dengan bangga bercerita terkait istrinya yang dia minta untuk melepas jilbabnya demi menyelamatkan Indonesia dari pengaruh budaya Arab yang semakin mewabah. Mempertahankan budaya adalah hal yang lebih penting daripada jilbab itu sendiri.

Bagaimana mungkin seorang ustadz dapat mengatakan demikian, padahal dia mengetahui sebuah hadist “Al Islamu ya’lu wa laa yu’laa”. Islam itu tinggi dan tak ada yang dapat menandinginya. Islam mestinya diletakkan di atas segala-galanya, termasuk budaya. Namun, bukan berarti Islam tidak menerima budaya. Islam boleh mengambil budaya yang tidak melanggar syariat.

Jilbab itu budaya Arab atau bukan, muslimah hari ini mengambil kewajiban syariat ini karena merupakan bagian dari perintah Allah swt yang dalam bentuk seruan yang sangat jelas, tercantum dalam AlQur’an dan hadist shahih.

Sebelum ini, juga banyak muncul dalih terkait bahayanya wanita menutup aurat, melihat tren hijab yang berkembang. Gayatri WM, seorang penulis, misalnya, dalam laman facebooknya (21/10/2019) mengatakan bahwa busana Muslim (dari industri tekstil) merupakan salah satu jenis busana yang ikut andil dalam merusak lingkungan. Tulisan yang nampak ilmiah dengan data statistik pencemaran lingkungan dari industri tekstil yang juga banyak dari produk pakaian muslim. Namun, dia lupa bahwa gaya hidup hedonisme dan konsumerisme itulah yang menjangkiti umat manusia hari ini, karena kapitalisme yang melihat kebahagiaan itu hanya dengan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Mencampuri urusan kewajiban menutup aurat dengan pakaian syar’i dengan gaya hedonisme konsumerisme (baca : belanja pakaian banyak) adalah tidak pada tempatnya.
Dalih lainnya untuk menolak hijab adalah adanya defisiensi vitamin D. Ini jelas ngawur dan mengada-ada. Dalam setiap kewajiban Syariat yang telah Allah swt telah tetapkan bagi manusia, pasti ada sebuah kemaslahatan bagi manusia yang tidak akan merugikan manusia.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Demikianlah para antek pemikir liberal melakukan propaganda, mengotak-atik pemikiran Islam agar sesuai dengan agenda liberalisasi mereka. Mereka akan tetap terus berupaya mengeksiskan pemikirannya. Mereka tidak ridho jika pemikiran Islam menang dan berhasil diterapkan atas manusia secara menyeluruh. Dalam berbagai media pun, mereka gencar membuat stigma negatif terhadap Islam, termasuk jilbab itu sendiri. Bahwa jilbab itu lekat dengan terorisme dan radikalisme.

Rezim liberal tak dapat diharap
Berbagai pemikiran nyeleneh terkait Islam yang menyesatkan umat, akan terus bermunculan seiring dengan dakwah pemikiran Islam kaffah yang juga terus digencarkan. Tak akan ada perlindungan dari negara dengan rezim liberal ini, malah akan dibiarkan atau dibela, karena yang demikian juga untuk kepentingan mereka tetap terjaga.

Maka, idealnya seorang muslim harus berhati-hati dalam mengambil sebuah pemikiran dari corong antek-antek liberal dengan bungkus Islam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed