oleh

Jilbab Wajib bagi Muslimah

-BERITA, OPINI-114 views


(oleh: Evi Desi Said, S.Pd/pemerhati Sosal)

CYBERPARE.COM, PAREPARE,–Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin,”Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (TQS Al-Ahzab : 59).

Sinta Nuriyah, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gusdur mengatakan bahwa perempuan muslim tidak wajib untuk memakai jilbab. Ia pun menyadari bahwa masih banyak orang yang keliru mengenai kata jilbab dan hijab.

Menurut dia, hijab tidak sama pengertiannya dengan jilbab. “Hijab itu pembatas dari bahan-bahan yan keras seperti kayu sedangkan jilbab adalah bahan-bahan tipis seperti kain untuk menutup”. Kata Sinta di Youtube channel Deddy Corbuzier pada Rabu, 15 Januari 2020 (seleb.tempo.co 16/01/2020).

Pernyataan yang disampaikan Sinta Nuriyah sangat bertentangan dengan pendapat para ulama dalam hal berhijab.

Para ulama bahkan tidak ada perbedaan pendapat terkait dengan kewajiban menutup aurat bagi setiap muslimah.

Berhijab sejatinya adalah identitas sebagai seorang muslimah, jelas bahwa Allah mengatakan ketika muslimah berhijab itu agar mudah dikenai dan tidak mudah diganggu. Allah menjelaskan kewajiban berhijab ini dengan jelas dalam QS Al Ahzab ayat 59 dan QS An-Nur ayat 31.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya.” (TQS An-Nur: 33).

Rasulullah saw pernah menegur Asma binti Abu Bakar ra ketika beliau datang ke rumah Nabi saw dengan mengenakan busana agak tipis.

Rasulullah saw pun memalingkan mukanya sambil berkata: “Wahai Asm! Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh menampakkan dari anggota badanyya kecuali ini dan ini beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan” (HR Abu Daud).

Dijelaskan pula berbedaan antara jilbab (jalabib) adalah pakaian longgar/gamis (QS AL-Ahzab: 59).

Sedangkan Kerudung (Khimar) adalah kain yang menutup kepala, leher, dan dada (QS An-Nur: 33). Itulah dalil yang sangat jelas bahwa hijab itu wajib, tidak ada perselisihan mengenai kewajiban atas perkara hijab, jadi sangat jelas bahwa perkara kewajiban berhijab bagi muslimah tidak bisa diganggu gugat karena Allah sendiri yang telah mewajibkan perkara ini.

Manusia dengan segala keterbatasan tidak ada hak dalam membuat aturan hidup, manusia hanya wajib taat pada hukum pencipta alam semesta.

Menjadi aneh jika perkataan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah, ditaati Walaupun itu adalah perkataan seseorang yang dianggap tokoh atau ulama selama perkataannya bertentangan dengan hukum Allah maka wajib ditolak.

Dalam sistem demokrasi sekuler yang sangat liberal kebebasan yang kebablasan terhadap syariat Islam yang qoth’i (pasti) dalilnya justru dibiarkan bahkan dilindungi.

Wacana muslimah tidak wajib menggunakan jilbab/pakaian penutup aurat yang disampaikan oleh kalangan islam liberal yang berjargon “Islam yang membebaskan”. Mereka berupaya melepaskan umat Islam dari keterikatan hukum Allah swt, atas nama kebebasan tanpa batas yang berlindung dibawah nama HAM dengan prinsip My Body My Authority.

Maka sudah saatnya kita butuh pelindung bagi Agama Islam dan umatnya dari pembenci Islam dan kaum muslimin karena salah satu Upaya menjauhkan umat dari syariat dimulai dengan mengotak-atik nas-nas syariat dan ditafsirkan dengan metode salah, tidak mengikuti kaidah yang sudah disepakati oleh ulama salaf.

Pelindung yang dibutuhkan kaum muslim dalam penerapan syariat Islam secara keseluruhan adalah tegaknya Daulah Islamiyah yang mampu menerapkan syariat Islam yang mampu menyejahterakan masayarakat di seluruh aspek kehidupan. Wallahu’alam.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed