oleh

Danau Lindu di Sigi Sulawesi Tengah Jadi Sarang Burung Migrasi

CYBERPARE.COM,SIGI, Pengelola Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) menemukan lokasi khusus bagi burung migrasi yang melintas setiap tahun di kawasan destinasi Danau Lindu, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kepala balai Besar TNLL, Jusman di Palu, membenarkan adanya lokasi untuk menyaksikan ribuan burung migrasi melintas di kawasan Danau Lindu.

Burung-burung migran itu, kata dia, setelah berkeliling dunia, mereka melintas setiap tahun dan banyak disaksikan masyarakat yang ada di Kecamatan Lindu.

Kecamatan Lindu terletak di atas ketinggian 2.000 meter dari permukaan laut dan memiliki sebuah danau yang besar dengan panorama menarik dan menjadi salah satu habitat berbagai satwa, termasuk burung endemik.

Informasi dari masyarakat setempat, ada satu tempat untuk bisa melihat atau menyaksikan burung-burung migrasi melintas dengan jumlah besar.

Menurut dia, lokasi tersebut ke depan akan dikembangkan oleh Balai Besar TNLL untuk menjadi salah satu lokasi pengamatan burung migrasi.

Selain itu, ada ratusan jenis burung yang hidup dan berkembangbiak di hutan dan alam kawasan obyek wisata Danau Lindu sehingga sangat menarik bagi wisatawan mancanegara untuk mengunjunginya.

Danau Lindu merupakan salah satu dari beberapa danau di Provinsi Sulteng yang berada di atas ketinggian mencapai 2.000 mdpl dan setiap tahun banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.

Lindu menjadi salah satu tempat bagi para mahasiswa dan peneliti dari berbagai negara di dunia untuk melakukan aktivitas penelitian.

Dari Palu, kata Jusman, bisa naik mobil atau sepeda motor dengan waktu dua jam sampai di Desa Sadaunta, Kecamatan Kulawi melalui jalur Palu-Kulawi.

Desa Sadaunta merupakan pintu masuk menuju Danau Lindu. Dari Sadaunta menempuh perjalanan sekitar satu jam menyusuri jalan ekstrem melewati kawasan konservasi TNLL.

Danau Lindu dikelilingi lima desa yakni Puro’o, Langko, Tomado, Anca dan Olu dengan penduduk sekitar 5.000 jiwa.

Danau Lindu terkenal dengan ikan mujair. Ikan mujair Danau Lindu sangat gurih dan dagingnya manis sehingga banyak diminati pasar.

Dahulu masyarakat hanya membarter ikan dengan barang kebutuhan pokok seperti beras, gula dan minyak serta damar.

Danau Lindu juga berada di sekitar kawasan TNLL dan masyarakat yang ada cukup bersahabat dengan hutan dan alam yang ada di sekitarnya.

Untuk menjaga agar ikan tetap bisa terus berkembang dengan bagus, maka pemerintah bersama lembaga adat setempat setiap enam bulan sekali melakukan penutupan danau.

Selama masa penutupan, masyarakat dilarang keras untuk menangkap ikan dalam jumlah besar, kecuali hanya untuk dikonsumsi sendiri sebagai kebutuhan sehari-hari.

“Tapi jika terbukti ada yang melanggar, maka bersangkutan akan dikenakan sanksi atau denda adat,” ujar. (sukiman)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed