oleh

Mengenal Reputasi Marwal Iskandar Sang Instruktur Pelatih Berlisensi A AFC

CYBERPARE.COM, PAREPARE —
Reputasi Marwal Iskandar asal kota Palopo Sulsel yang kini mengantongi Lisensi A AFC sebagai instruktur, diraihnya melalui jalan panjang.

Marwal Iskandar sang legenda sepakbola, diwawancarai wartawan media ini pada penutupan Kursus Pelatih Lisensi D oleh Askot PSSI kota Parepare di Cafe Patato kota Parepare, Minggu (01/11/2020), mengemukakan …..

Debutnya merumput di lapangan hijau ketika memperkuat GASPA Palopo pada piala Soeratin Cup 1991.

Gayung bersambut bakat yang dimiliki memainkan bola bundar, membuatnya ikut bermain pada piala Habibie Cup Ajatappareng tahun 1992 hingga 1996, kata Marwan.

Dewa keberuntungan mulai terasa berpihak ketika memperkuat GASPA Palopo keluar sebagai juara pada piala Soeratin Cup mengalahkan Pinrang di final 1991.

Marwal mengakui bahwa masa masa itu barometer pesepakbolaan di Sulsel juga berkiblat di kota Parepare.

Lanjut cerita Marwal, bila akhir 1992 hingga 1995 bergabung di Bontang FC (LNG PT Badak) dan (PKT Bontang).

Pada Porda 1995 ia membawa Palopo sebagai juara yang dinantikan selama 40 tahun setelah mengalahkan Makassar di Stadion Mattoanging.

Sekembali memperkuat Tim Sulsel pada PON 13, berbagai club menginginkannya, namun obsesinya ingin bersama PSM Makassar yang dikenal Pasukan Juku Eja kala itu.

Namun kenyataannya waktu itu tidak seperti apa yang dibayangkan. Sebab dirinya malah diarahkan memperkuat PSM yunior pada tim Habibie Cup yang berlangsung di lapangan Andi Makkasau kota Parepare, katanya.

Justru pada Habibie Cup Ajatappareng dirinya dinobatkan sebagai pemain terbaik, melalui gol spektakuler dari garis tengah lapangan, bebernya. Sehingga membuka lebar jalan menjadi pemain inti PSM, tandasnya.

Setahun setelah bermain di PSM akhirnya PSM mendapat tiket ke Senayan empat besar pada Liga Kansas (liga 3) dibawa manajer Andi Latif dari Tiga Utama.

PSM selanjutnya mewakili Indonesia ke piala Aga Khan Gold Cup di Bangladesh dan kalah dari Thailand di semifinal, namun Luciano Leandro keluar sebagai pemain terbaik dan Izaac Fatari pemegang top skor, kenangnya.

“Sekembali dari Bangladesh, ikut bergabung Persikota Tangerang setelah diajak Andi Lala,” ungkapnya.

Pada tahun 1997 pindah ke Persikota, disitulah kariernya mulai terus menanjak, dengan membawa Persikota empat besar Liga 1, ujarnya.

Kemudian pindah ke Perseden 1 tahun, Persib 2003, PSMS, Persipura, Persija, Persebaya, Deltras, Persikab, Palangkaraya.

Obsesinya ingin bermain di enam kesebelasan papan atas untuk mengenal kultur dan karakteristik pemain, ungkapnya lagi.

Marwan juga menambahkan jika pernah ikut menyelamatkan Persib dari jurang degradasi tahun 2003.

Legenda yang berposisi sebagai gelandang semasa menjadi pemain ini, kini memilih melanjutkan rutinitasnya sebagai seorang instruktur kepelatihan.

Selepas gantung sepatu, Marwal memang memutuskan berkarier di dunia kepelatihan. Ia sempat terlibat di sejumlah klub baik di akademi maupun klub profesional dengan menjabat sebagai asisten hingga pelatih kepala, sebelum akhirnya berprofesi sebagai instruktur.

“Saya berhenti bermain itu tahun 2010, jadi 2011 saya ke Malaysia melatih akademi Frenz selama tiga tahun. 2015 saya jadi asisten pelatih di Borneo FC, dan 2016 saya melatih PS Polri,” ujar Marwal.

“Setelah itu, saya jadi asisten di Persela dan tahun 2017 saya latih Cilegon dan saya pindah ke PSPS Pekanbaru dan sempat bawa ke 8 besar Liga 2 waktu itu. Lalu tahun 2018 saya latih Persis Solo sambil mengikuti lisensi A AFC. Sekarang saya sudah kantongi lisensi tersebut,” tambahnya.

Usai mundur dari bangku kepelatihan, Marwal yang kini menetap di Pamulang, Tangerang Selatan, ingin lebih fokus lagi dalam menggeluti dunianya sebagai seorang instruktur. Ia pun harus jauh-jauh terbang hingga ke Jerman untuk memperdalam ilmunya. 

Marwal merupakan perwakilan Indonesia yang mengikuti Sport For Development (SFD) di Jerman. Marwal menjadi salah satu dari perwakilan 17 negara yang diundang oleh federasi sepak bola Jerman (DFB) untuk menjalani pelatihan berlisensi setara B UEFA pada Agustus 2019.

“Saya baru ikut Sport for Development International Expert Training di Jerman Agustus 2019. Dan dari 17 negara saya sendiri dari Asia yang diundang oleh DFB, DOSB (KONI Jerman) dan Kementerian Ekonomi dan Pembangunan Jerman,” jelasnya.

Bawa Persipura Juara Pertama Kali
Semasa menjadi pemain, tepatnya tahun 2005 silam, Marwal menorehkan catatan manis dalam kariernya dengan ikut membawa Persipura meraih gelar juara Liga Indonesia untuk pertama kalinya.

Kala itu, Marwal merupakan pilihan utama sang pelatih Rahmad Darmawan di posisi gelandang bertahan. Ia dikenal sebagai gelandang petarung dan pekerja keras. Gaya mainnya itu terinspirasi dari legenda AC Milan, Gennaro Gattuso dan legenda Juventus, Edgar Davids.

Sifat pekerja kerasnya itu bahkan ia tunjukkan dengan kebiasaannya menggulung lengan baju setiap kali bertanding. 
“Itu adalah filosofi dan ciri khas saya dan ketika menggulung lengan baju itu menandakan kita adalah pekerja keras,” ungkapnya. (Jamal)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed