banner 728x250

Sawah Jadi Langganan Banjir, Puluhan Petani di Labarang dan Lapadangpero Wacanakan Swadaya Perbaikan Aliran Sungai LompoE

banner 120x600
banner 468x60

PAREPARE, Cyberpare.Com — Puluhan petani di kampung Labarang dan Lapadangpero, Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, mewacanakan swadaya perbaikan aliran sungai lompoe yang semakin dangkal akibat terkikis banjir (abrasi).

Petani setempat mengaku mengalami kerugian akibat sawah yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan bagi keluarga mereka, setiap tahun terendam banjir bila musim penghujan tiba lantaran sawahnya tepat berada di sisi aliran sungai lompoe. Sekiranya, 10 hektar sawah di kampung Labarang dan Lapadangpero setiap tahun menjadi langganan banjir.

 

Hal itu dikatakan Rahman, salah seorang petani di Labarang, Jumat (3/8/2018). Ia dan beberapa petani di kampung Labarang dan Lapadangpero, bakal melakukan perbaikan aliran sungai dengan melakukan pengerukan sungai dan perbaikan tepi persawahan yang terkikis oleh banjir.

Menurutnya, banjir ini dipicu oleh sungai yang mengalami pendangkalan, serta terjadinya pengikisan tepi sungai alias abrasi yang mengakibatkan air sungai meluap apabila sudah memasuki musim hujan. Pasir, batu, dan pohon hanyut dan melintas di atas hamparan persawahan mereka hingga menutupi tanaman padi maupun padi yang siap panen.

Senada dikatakan petani lainnya, Pabitta. Ia mengeluhkan, banjir seperti ini selalu terjadi disetiap musim hujan tiba dan kondisi seperti ini jelas membawa kerugian besar bagi petani akibat hasil panen mereka turun drastis, dan bahkan ada lahan yang sama sekali tidak dapat lagi ditanami padi akibat tertimbun pasir, batu, rongsokan pohon yang menutupi lahan pertaniannya.

“Kondisi seperti ini sepanjang belum diperbaiki, maka kerugian pun terus menghantui para petani,” keluhnya.

Untuk mengatasi kerugian berkelanjutan, para petani yang menjadi langganan banjir bersepakat dan merencanakan swadaya pengerukan aliran sungai dan bersama sama ikut menanggung segala biaya sewa alat berat (eskavator) untuk pengerukan sungai.

Sementara itu, Amir, salah satu pengurus kelompok tani yang mengelola alat berat (ekskavator) bantuan pemerintah untuk kelompok tani, menuturkan biaya sewa alat berat sebesar Rp.350 ribu perjam.

“Dengan catatan, pengerukan aliran sungai hanya dapat dilakukan pada musim kemarau. Sebab selain debit air sungai berkurang juga akses alat berat masuk ke lokasi tidak terhalang oleh musim tanam,” tutur Amir.

“Masalah ini sebenarnya sudah sering diusulkan di forum Musrenbang oleh anggota kelompok tani. Bahkan Jamaluddin, salah seorang pemilik lahan persawahan kerap menyampaikan secara lisan kepada Dinas terkait, namun hingga kini belum juga tersentuh oleh pemeritah,” tandasnya. (mal/ardi)

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *