PAREPARE, Cyberpare.com — Usman, nelayan berusia 32 tahun berhasil selamat dari gempa dan tsunami Palu pada Jumat 28 September 2018. Lelaki asal Kota Parepare Sulawesi Selatan ini sudah puluhan tahun merantau dan menetap di Kabupaten Donggala.
Saat peristiwa nahas terjadi, Ayah 3 anak ini berada di tepi pantai bersama sejumlah nelayan lainnya yang hendak melaut mencari ikan.
“Waktu itu menjelang maghrib, saya di pinggir laut bersama beberapa nelayan lainnya. Tiba-tiba terjadi gempa kecil sebanyak tiga kali, lalu gempa besar. Pasir di pantai terbelah dan berlubang, semua teman saya terlempar masuk lubang. Saya lari pas tiga langkah air datang menyapu (tsunami, red). Saya tergulung dan terisap ke tengah laut,” cerita Usman yang ditemui di salah satu Cafe di Parepare, Senin (8/10/2018) malam.
Saat tsunami menerjang, dirinya berusaha tenang dan tidak melawan arus gelombang. “Saya digulung, diputar gelombang dan ditarik ke tengah laut. Karena sudah terbiasa dengan laut, saya harus mengikuti putaran gelombang biar tidak kehabisan nafas. Kira-kira selama 30 menit baru saya berada di permukaan laut,” kata Usman.
Beruntung, Usman melihat jerigen berukuran 20 liter diantara puing-puing kayu yang terbawa arus gelombang tsunami. Jerigen itulah yang digunakan sebagai pelampung selama terombang-ambing di tengah laut donggala.
“Semua teman saya di perahu meninggal. 1 hari 1 malam saya di tengah lautan baru didapat tim sar. Saya sangat loyo dan terus berdoa agar anak istri saya di rumah selamat dari gempa,” ujar Usman yang sebelumnya pernah diterjang tsunami di Pagatan Batulicin.
Gempa Palu bermagnitudo 7,7 meluluhlantakan Kota Palu, Donggala, Sigi dan sejumlah daerah lainnya di Sulteng. Rumah Usman di Lorong PLN RT 2 RW 1 Dusun Kampung Baru, Kelurahan Gunung Bale, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala turut hancur.
“Alhamdulillah istri dan ketiga anak saya juga selamat. Semua hancur, termasuk rumah saya,” tutup Usman sambil memeluk ketiga anaknya. (ardi)


















