PAREPARE, Cyberpare. Com – Hidup memang tak semudah membalikkan telapak, itulah yang dialami Baharuddin (48 ), seorang pemulung yang tinggal di gubuk reok, yang hanya berukuran 2×2 meter,di pantai Mattiro Tasi, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
Dulu Baharuddin adalah seorang Buruh Bangunan (tukang batu) yang cukup dikenal. Namun sejak sulitnya mendapatkan pekerjaan sebagai seorang Tukang Batu, di Kota yang dikenal dengan Kota Pembagnunan, sejak Empat tahun silam, Baharuddin, memilih menjadi seorang pemulung, dan mendirikan gubuk berukuran 2×2 meter yang sebagian dindingya terbuat dari perahu yang sudah tak dipakai oleh Nelayan setempat.
“ Di Parepare ini menjadi tukang batu saja sulit, apalagi mau bekerja menjadi Kontraktor. Karena tidak lagi bekerja sebagai tukang batu, saya memilih menjadi pemulung., “ Kata Baharuddin, di rumahnya Selasa (31/10/2017),sambil menyusun plastik bekas yang baru saja ia dapatkan.
Kata Baharuddin, di Kota Parepare ini menjadi pemulung lebih gampang, karena Kotanya yang cukup Kotor, dimana mana kita bisa mendapatkan plastik dan kaleng bekas untuk dijual.
“ Menjadi pemulung lebih gampang dari pada menjadi tukang batu, di Parepare ini sangat banyak sampah plastik yang bisa dipungut kemudian dijual, walaupun hasilnya sedikit,dari pada jadi pengangguran. “ Kata Baharuddin.
Dari hasil memulung Burhanuddin, mengaku tak bisa menghidupi dirinya sendiri.Untuk makan sahari hari saja Baharuddin, hanya berharap bantuan tetangga sekitar.
“ Lihat saja pak,untuk masak saja, Baharuddin hanya menggunakan Kaleng bekas yang ia pungut. Dulunya ia seorang tukan batu banyak order, tapi sejak empat tahun terakhir ia sangat sulit mendapatkan pekerjaan.“ Kata Amin, warga setempat. (*)





















