CYBERPARE.COM, PAREPARE – Tatkala nakhoda Kota Parepare dipimpin H. Basrah Hafid, SH, sosok aparatur daerah yang bernama Hariyanto,S.Sos cukup dikenal. Bukan saja, di Kota Parepare saja tetapi di Sulawesi Selatan, bahkan di tingkat nasional.
Sebab mantan walikota Parepare tahun 1998 – 2003 itu membentuk Kantor Sistim Pelayanan Satu Atap (Sintap) Kota Parepare dengan menunjuk Hariyanto membawa sebagai kepala kantornya.
Kepercayaan Basrah Hafid tersebut tidak disia-siakannya, Hafid dengan kepiawaiannya mengelola Kantor Sintap sehingga dapat penghargaan dan menjadi percontohan di tingkat nasional. Berkat keberhasilannya itu, sehingga Sintap Parepare menjadi “tempat” belajar daerah-daerah lainnya.
Kini, Hariyanto yang dikenal sebagai pribadi yang sangat disiplin di kalangan pegawai Pemda Papare telah tiada. Ia menghembuskan nafas, Minggu (10/1-2021) pagi, setelah beberapa hari di rawat RSU Type B Andi Makkasau karena terpapar virus covid-19. Pejabat Asisten III Setdako Parepare ini, jenazahnya tidak lagi disemayamkan di rumahnya Kompleks Perumnas WekkeE tetapi langsung dibawa Tim Gugus Covid-19 ke pekuburan korban virus corona di Kota Parepare yaitu di Bilalangnge Kecamatan Bacukiki.
Namun jamaah shalat dhuhur Masjid Nurussamawati sempat membacakan alfatiha. Kemudian sejumlah aparat teras Setdako Parepare tetap mengantarkannya ke persemayaman terakhirnya dengan tetap menjaga jarak.
Camat Bacukiki Saharuddin menilai sosok Hariyanto sebagai pribadi yang sangat baik. Menurutnya, bila berhubungan dengan beliau tidak pernah mempersulit orang. “Orangnya tipe orang yang tak neko-neko”, ujar Sahar menyebut penguburan Bapak Hariyanto merupakan yang ke-25 korban virus covid-19.
Sementara Dra. St. Rahmawati, M.Si yang pernah jadi stafnya di kantor Sintap Parepare merasa sangat sedih. Sekertaris Dinas Perpustakaan ini mengenal sosok Hariyanto sebagai pribadi yang bersih, disiplin, dan teratur sehingga hampir semua hal di kantornya diperhatikan. “Pemda Parepare kehilangan salah satu asset yang diandalkan dan dibanggakan”, kata Rahmawati sembari menangis yang tidak bisa melepas kesedihannya. (takdir abduh).


















