PAREPARE, Cyberpare.com — Pupuk bersubsidi jenis Urea dan Phonska diwilayah Kota Parepare kosong mengakibatkan tanaman padi petani terlambat untuk di pupuk.
Dampak kosongnya pupuk tersebut petani di wilayah Kecamatan Bacukiki tidak manpu untuk berbuat banyak dan memilih pasrah.
La Mamming, petani di Bacukiki, mengaku hanya pasrah dengan alasan kosongnya pupuk bersubsidi.
Menurutnya, sejak pertengahan Desember 2017 lalu,padi miliknya sudah seharusnya diberikan pupuk,tetapi karena persedian pupuk masih kosong,sehingga padinya kecil dan tidak subur.
“Bisa saja, kita gagal panen,kalau lama-lama tidak ada pupuk.Karena ini sudah waktunya padi dipupuk,tetapi pupuknya tidak ada,ya kita pasrah saja,sambil tunggu adanya pupuk,”keluhnya.
Terpisah, Bapak Taufik, Salah seorang Petani di Wilayah Bacukiki mengaku, untuk mendapatkan Pupuk, di KTNA sangat susah, selain kadang tidak ada dijual, Permintaan Pupuk yang katanta gratis (Tertulis di Sak Pupuk) petani juga harus membayar sejumlah uang yang nilainya kurang lebih Rp.100 Ribu, dengan alasan pengganti biaya transportasi.
“Susah sekali Pupuk di dapat pak, apalagi di KTNA, kalo pun ada, kami harus bayar Rp 100.000 lebih untuk 1 sak Pupuk” terang Bapak Taufik.
Terkait hal ibi, Ketua KTNA Parepare H Badaring, ditemui di kediamannya,mengaku pengadaan pupuk yang dilakukan itu terlambat,sehingga persedian pupuk untuk 2018 ini belum ada.
“Memegang terlambat pengadaanya,Jadi untuk 2018 belum ada pupuk,”Katanya.
Dijelaskannya, Dua jenis pupuk yang paling banyak digunakan Petani yakni Urea dan Phonska,dan Pupuk itu bersubsidi.
Dia menyebutkan,jumlah pupuk yang salurkan untuk tahun 2017 lalu sebanyak 300 ton untuk Urea dan MPK (Phonska dan sejenisnya) sebanyak 200 ton, Sementara pupuk jenis Za dan SP36 tidak terlalu banyak peminatnya, sehingga persediannya juga terbatas,karena yang menggunakan pupuk jenis ini sebagian besar dari petani kebun, Dan memang kami bebankan kepada Petani, setiap pengambilan Pupuk dikenakan biaya pengganti Transportasi, meski di Karung pupuk itu, tertulis Gratis, kata H.Badaring.(Effendy)


















