banner 728x250

Di Ujung Cempae, Harapan Yang Tak Pernah Padam: Potret Perjuangan UMKM Parepare Di Tengah Sepinya Pengunjung

banner 120x600
banner 468x60

CYBERPARE.COM, PAREPARE, – Suara gemericik air di sekitar tanggul Cempae yang dulu ramai dengan tawa pengunjung, kini terdengar semakin sunyi. Tempat yang dulunya menjadi salah satu titik nongkrong paling hidup di Parepare ini, kini mulai kehilangan gairahnya. Para pedagang yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup di kawasan ini, perlahan merasakan tekanan akibat menurunnya jumlah pengunjung sejak beberapa bulan terakhir.

Salah seorang pedagang yang telah membuka usahanya sejak tahun 2018 menceritakan bagaimana geliat ekonomi di kawasan itu berubah drastis.

“Dulu waktu awal buka, belum seramai ini. Tapi pengunjung masih banyak, jualan juga lumayan. Sekarang terasa sekali sepinya,” ungkapnya sambil menata kursi kosong di depan kiosnya.

Ia mengingat betul masa-masa ramai, terutama setelah pandemi Covid-19 berakhir. “Abis Covid itu rame sekali. Tapi mulai pemilu kemarin, pengunjung mulai turun terus. Sekarang ya begini, kadang satu malam cuma habis beberapa porsi,” tambahnya.

Bukan hanya sepinya pembeli, kondisi infrastruktur di sekitar kawasan tanggul Cempae juga menjadi sorotan para pelaku usaha. Menurut mereka, banyak jalan yang rusak dan berlubang hingga sering menimbulkan kecelakaan kecil.

“Orang lewat sering jatuh, apalagi kalau malam. Jalanannya banyak yang rusak berlubang, harusnya pemerintah cepat tanggap. Kalau bisa, diratakan atau ditambal dulu lah,” ujarnya berharap.

Ia juga menambahkan bahwa perbaikan akses jalan bukan hanya untuk kenyamanan warga, tetapi juga bisa membantu menggairahkan kembali ekonomi di kawasan itu. “Kalau jalan bagus, orang mau datang lagi. Sekarang orang malas karena takut jatuh,” tambahnya.

Sejumlah pedagang juga menilai bahwa penurunan jumlah pengunjung tidak semata-mata karena faktor infrastruktur. Munculnya banyak tempat baru di Kota Parepare juga membuat konsentrasi pengunjung terpecah.

“Mungkin karena banyak tempat baru. Daya beli juga berkurang. Sekarang orang lebih pilih nongkrong di kafe modern, padahal di sini juga suasananya asik kalau ramai,” ungkap Reza, putra dari pemilik Kios Beringin.

Salah satu kisah menarik datang dari owner Kedai Jakarta, salah satu pelaku usaha di kawasan tersebut. Ia mengaku tetap bertahan dengan semangat berbagi dan memberdayakan mahasiswa sebagai tenaga kerja.

“Saya pekerjakan mahasiswa dari berbagai daerah ada yang dari Pinrang, Sidrap, bahkan Mamasa. Sekarang yang kerja kuliah semester tujuh. Bagi saya, memperkerjakan sesama itu berkah tersendiri,” ungkapnya penuh rasa syukur.

Meski pengunjung sepi, ia bertekad tetap membuka kedai sebagai bentuk tanggung jawab keluarga, sosial kecilnya terhadap anak muda yang mencari pengalaman kerja sambil kuliah.

“Saya sudah merasakan pahit manis berusaha dari nol. Jadi kalau bisa bantu orang lain, kenapa tidak?” tuturnya.

Para pedagang berharap Pemerintah Kota Parepare (Pemkot) tidak hanya fokus membangun pusat kota, tetapi juga memberi perhatian kepada kawasan tanggul Cempae yang dulunya menjadi ikon kuliner rakyat.

“Kami berharap pemerintah bisa adakan event di sini, biar orang datang lagi. Minimal ada kegiatan yang hidupkan suasana,” pinta salah satu pedagang.

Selain itu, mereka juga meminta agar Pemkot memperbaiki jalan rusak di sekitar area tanggul sebagai langkah awal kebangkitan kawasan tersebut.

“Kalau jalanan bagus dan ada kegiatan, kami yakin ekonomi kecil di sini bisa bangkit lagi,” tegasnya.

Tanggul Cempae kini mungkin tampak sepi, namun di balik senyum lelah para pedagangnya tersimpan semangat yang tak padam. Mereka masih menyalakan api kecil harapan bahwa suatu hari nanti, riuhnya tawa pengunjung dan aroma masakan hangat akan kembali memenuhi udara Parepare di tepi tanggul yang romantis itu.(*)

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *