CYBERPARE.COM, MAKASSAR – Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini bagi sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, termasuk Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, dan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Fenomena cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat disertai kilat petir dan angin kencang diperkirakan melanda wilayah ini pada dini hari mulai Senin – Rabu antara pukul 01.20 hingga 03.20 WITA.
Meskipun dalam daftar awal BMKG tidak menyebutkan kecamatan secara spesifik, ketiga wilayah ini yang berada di jalur pesisir barat dan dataran tengah Sulawesi Selatan berada dalam zona meteorologi aktif.
Kota Parepare, misalnya, kerap menjadi jalur lintasan angin barat laut dari Selat Makassar yang membawa massa udara lembap. Pinrang dan Sidrap pun memiliki topografi yang memperkuat pembentukan awan konvektif, terutama saat memasuki peralihan musim seperti akhir Oktober ini.
“Aktivitas konvektif meningkat akibat pemanasan permukaan laut dan gangguan lokal di sekitar Selat Makassar. Kondisi ini memicu potensi hujan lebat disertai petir dalam waktu singkat,”
ujar Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Irwan Slamet, dalam keterangan resminya, Senin dini hari.
BMKG mencatat, pola tekanan udara rendah di perairan barat Sulawesi dan pergeseran Intertropical Convergence Zone (ITCZ) turut memperkuat potensi terbentuknya awan cumulonimbus jenis awan yang menjadi sumber hujan deras, petir, dan hembusan angin kencang. Fenomena ini bukan hanya menimbulkan genangan air sesaat, tetapi juga meningkatkan risiko banjir bandang dan pohon tumbang, terutama di wilayah dengan sistem drainase yang belum optimal.
Sementara menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), cuaca ekstrem menjadi penyebab lebih dari 80% kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2025, terutama banjir dan tanah longsor. Di Sulawesi Selatan sendiri, sedikitnya 27 insiden banjir lokal dan 5 kejadian angin puting beliung telah tercatat sejak awal tahun (BNPB Data Center, Oktober 2025).
Pemerintah daerah Parepare, Pinrang, dan Sidrap bersama BPBD setempat kini siaga. Warga diimbau untuk:
Menghindari aktivitas luar ruangan saat hujan deras dan petir berlangsung.
Tidak berteduh di bawah pohon besar, baliho, atau tiang reklame yang rawan roboh.
Mengamankan barang-barang ringan seperti tenda, kanopi, atau papan reklame portabel.
Mewaspadai daerah lereng dan bantaran sungai kecil dari potensi aliran deras mendadak.
Memantau pembaruan cuaca resmi dari kanal BMKG, aplikasi InfoBMKG, atau media sosial pemerintah daerah.
Kepala Pelaksana BPBD Parepare, M Rasdy Gery, menegaskan pihaknya sudah menyiagakan tim reaksi cepat di beberapa titik rawan, terutama di sekitar Sungai Karajae dan kawasan Bacukiki Barat yang sering mengalami genangan saat hujan lebat.
“Kami sudah koordinasi dengan kelurahan untuk pemantauan lapangan. Warga kami minta tetap waspada, tapi jangan panik,” ujarnya saat dihubungi malam tadi.
Menurut analisis BMKG Pusat, saat ini sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan tengah mengalami fase transisi dari kemarau ke musim hujan.Kondisi atmosfer yang tidak stabil kerap memunculkan cuaca ekstrem lokal, dengan intensitas tinggi namun durasi singkat.
Suhu permukaan laut di perairan Makassar dan Teluk Bone yang relatif hangat (sekitar 29–30°C) turut mendukung pertumbuhan awan hujan masif di wilayah Parepare–Pinrang–Sidrap.
Ahli klimatologi Universitas Hasanuddin, Dr. Rahmawati Nurdin, menambahkan bahwa fenomena seperti ini berpotensi berulang hingga awal November.
“Masyarakat perlu memanfaatkan informasi prakiraan cuaca harian BMKG untuk perencanaan aktivitas, terutama sektor kelautan, pertanian, dan transportasi,” ujarnya.
BMKG menegaskan peringatan dini ini bersifat dinamis dapat diperbarui sewaktu-waktu mengikuti perkembangan atmosfer.
Masyarakat di Parepare, Pinrang, dan Sidrap diimbau untuk tetap tenang, waspada, dan tidak mudah percaya pada informasi tidak resmi yang beredar di media sosial.
Kesiapsiagaan sederhana, seperti memeriksa saluran air rumah, memastikan atap terpasang kuat, dan menyimpan kontak darurat BPBD, dapat menjadi langkah kecil namun vital dalam mengurangi dampak cuaca ekstrem.(*)


















