CYBERPARE.COM, BARRU — Komandan Kodim 1405/Parepare, Letkol Kav S. Simanjuntak, S.I.P, meninjau langsung lokasi banjir yang merendam wilayah Bungi, Desa Lalabata, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, pada Jumat (5/12/2025). Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi masyarakat, memantau situasi di lapangan, dan menetapkan tindakan cepat dalam penanganan dampak banjir.
Hasil peninjauan menunjukkan ketinggian air di bawah kolong jembatan terowongan rel Kereta Api Jl. H. Ranreng mencapai ±45 cm atau setinggi paha orang dewasa. Sementara area persawahan di sekitar titik tersebut terendam hingga ±100 cm.
Banjir terjadi akibat luapan Sungai Bungi yang melimpas ke lahan persawahan dan menutup sebagian badan jalan. Kondisi ini sempat membuat warga kesulitan melintas dan mengganggu aktivitas ekonomi harian.
Untuk memastikan mobilitas warga tetap terjaga, dua unit perahu Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB Barru dikerahkan. Personel Koramil 1405-07/Tanete Rilau, prajurit Kodim 1405/Parepare, dan BNPB Kabupaten Barru turut membantu proses penyeberangan di titik yang tidak dapat dilalui kendaraan.
Sinergi lintas instansi ini menjadi titik krusial dalam evakuasi cepat dan penanganan awal banjir.
Pada pukul 16.20 WITA, debit air mulai menunjukkan penurunan signifikan. Jalur Bungi–Lalabata yang sebelumnya terputus akhirnya kembali dapat dilalui kendaraan dengan aman.
Dandim 1405/Parepare, Letkol Kav S. Simanjuntak, menegaskan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada penanganan darurat, tetapi juga memastikan kondisi tetap terkendali pasca-banjir.
> “Kami bersama unsur terkait bergerak cepat membantu warga dan memastikan kondisi tetap terkendali. Personel akan tetap siaga bila kondisi kembali berubah,”
Wilayah Sulawesi Selatan dalam beberapa pekan terakhir berada pada fase cuaca ekstrem akibat dinamika monsun dan peningkatan curah hujan. BMKG sebelumnya mengingatkan potensi hidrometeorologi basah, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor, terutama di daerah dengan kontur rendah dan aliran sungai besar—termasuk Kabupaten Barru.
Bungi merupakan salah satu titik rawan luapan sungai, sehingga koordinasi lintas lembaga menjadi faktor utama dalam mitigasi.
Pengamat kebencanaan dari Universitas Hasanuddin, Dr. A. Rasyid, menilai respons cepat aparat sudah tepat, tetapi menekankan pentingnya evaluasi jangka panjang.
> “Mitigasi struktural perlu diperkuat. Luapan sungai berulang menunjukkan perlunya penataan ulang tata air, termasuk pengerukan sungai dan peningkatan kapasitas drainase,” katanya.
Aparat gabungan memastikan pemantauan tetap dilakukan terutama pada titik kritis bantaran Sungai Bungi. Penanganan lanjutan akan disesuaikan dengan perkembangan cuaca dan prediksi BMKG.
Kodim 1405/Parepare menegaskan bahwa seluruh personel tetap dalam status siaga untuk mengantisipasi dampak lanjutan.(*)


















