banner 728x250

Kurban Dan Kepedulian Mengalir Dari Parepare, Muhammadiyah Tegaskan Islam Sebagai Kekuatan Sosial dan Kemanusiaan

banner 120x600
banner 468x60

CYBERPARE.COM, PAREPARE – Suasana Lapangan KH Sanusi Maggu, Universitas Muhammadiyah Parepare, Rabu Pagi (27/5/2026), dipenuhi gema takbir dan semangat kebersamaan saat warga dan simpatisan Muhammadiyah di Kota Parepare melaksanakan Salat Idul Adha 1447 Hijriah. Momentum hari raya kurban itu tidak hanya menjadi simbol ibadah ritual, tetapi juga menegaskan kuatnya solidaritas sosial dan kepedulian umat melalui penghimpunan hewan kurban dalam jumlah besar.

Panitia Idul Adha Perserikatan Muhammadiyah Parepare mencatat puluhan sapi dan kambing terkumpul dari masjid, organisasi otonom, yayasan, hingga donatur perorangan. Hewan-hewan kurban tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan di berbagai wilayah.

Dalam laporan panitia yang disampaikan menjelang pelaksanaan Salat Idul Adha, sejumlah masjid dan lembaga tercatat menjadi penyumbang utama. Masjid An Nida menjadi donatur terbesar dengan sembilan ekor sapi dan satu ekor kambing. Sementara Yayasan H. Nurdin Malik menyumbangkan enam ekor sapi, disusul Masjid Tardiat dengan tujuh ekor sapi, serta Lazismu yang menghimpun lima ekor sapi.

Kontribusi besar lainnya datang dari Masjid Darul Ilmi UMPAR, Masjid Al Furqan, dan Klinik Utama Aisyiyah Siti Khadijah yang masing-masing menyerahkan empat ekor sapi. Sejumlah keluarga dan tokoh Muhammadiyah Parepare juga turut berpartisipasi, di antaranya H. Umar S.Pd., M.Pd. dengan lima ekor sapi serta H. Ashari Abdullah bersama keluarga yang menyerahkan dua ekor sapi.

Partisipasi tersebut menunjukkan tradisi gotong royong dan semangat berbagi yang terus hidup di lingkungan Muhammadiyah. Selain menjadi bentuk ibadah, kurban juga dipandang sebagai instrumen penguatan ekonomi umat melalui pemberdayaan peternak lokal dan distribusi pangan bagi masyarakat kurang mampu.

Panitia juga menegaskan bahwa seluruh data hewan kurban akan dilaporkan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia dan Lazismu sebagai bagian dari administrasi dan koordinasi pelaksanaan kurban Muhammadiyah.

Prosesi Idul Adha berlangsung khidmat dengan dipimpin Ustaz Hasyim Fikri sebagai imam, sementara takbir dipandu DR Sarifuddin Yusuf, M.Sc. yang juga Selaku pembawa Khutbah pada perayaan Idul Adha Tahun ini mengumandangkan “Allahu Akbar” menggema dari ribuan jamaah yang memadati lapangan sejak pagi hari.
Namun, perayaan Idul Adha tahun ini tidak hanya diisi dengan seremonial ibadah.

Dalam khutbahnya, khatib menyoroti berbagai persoalan global yang dinilai menjadi tantangan serius umat Islam dewasa ini, mulai dari konflik berkepanjangan di Gaza dan Palestina, penderitaan etnis Rohingya, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Khatib mengingatkan bahwa nilai pengorbanan yang diwariskan Nabi Ibrahim AS tidak boleh berhenti pada penyembelihan hewan semata, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan moral masyarakat modern.
“Qurban bukan hanya ritual tahunan, tetapi pendidikan spiritual untuk melawan egoisme, keserakahan, dan ketidakjujuran,” ujar khatib dalam pesannya kepada jamaah.

Dalam khutbah tersebut, jamaah juga diajak membangun transformasi ekonomi umat melalui pengelolaan dana kurban secara profesional. Masyarakat didorong membentuk tabungan kurban berbasis lembaga keuangan syariah guna memperkuat ekonomi Islam sekaligus mendukung industri peternakan lokal agar tidak bergantung pada impor hewan ternak.

Selain itu, khatib menyoroti fenomena sosial di era digital yang dinilai memicu lahirnya budaya pencitraan dan “egoisme digital”. Menurutnya, semangat kurban sejatinya mengajarkan ketulusan tanpa pamrih dan empati nyata kepada masyarakat miskin, bukan sekadar mencari pengakuan di ruang media sosial.

Pesan moral lain yang mendapat perhatian jamaah ialah pentingnya integritas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merujuk Surah Al-Baqarah ayat 282, khatib menekankan kewajiban menjaga kejujuran dalam transaksi, menepati janji, dan menghindari utang tanpa niat membayar.

Khatib juga menyinggung pentingnya keteladanan orang tua dalam membangun generasi yang kuat secara spiritual. Menurutnya, keberhasilan Nabi Ibrahim mendidik Nabi Ismail lahir dari konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai kebenaran, bukan semata pendidikan formal.

Di penghujung khutbah, doa panjang dipanjatkan untuk keselamatan umat Islam di berbagai belahan dunia, khususnya warga Gaza, Palestina, dan Rohingya. Jamaah juga mendoakan Indonesia agar tetap damai, dipimpin oleh pemimpin yang adil, serta dijauhkan dari korupsi dan perpecahan sosial.

Perayaan Idul Adha Muhammadiyah di Parepare tahun ini pada akhirnya tidak hanya menghadirkan suasana religius yang khusyuk, tetapi juga memperlihatkan bagaimana semangat pengorbanan dapat diterjemahkan menjadi kekuatan sosial yang nyata menghubungkan ibadah, solidaritas kemanusiaan, dan harapan akan kehidupan yang lebih berkeadilan.

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *