CYBERPARE.COM, PAREPARE. Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Dari komunikasi hingga hiburan, hampir semua aktivitas kini terhubung melalui platform digital seperti Instagram, TikTok, X (dulu Twitter), dan Facebook. Namun, meskipun memberikan banyak manfaat, berbagai penelitian menunjukkan bahwa media sosial juga membawa dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan mental, sosial, dan emosional penggunanya,berikut pandangan para ahli tentang dampak buruk media sosial :
1. Kesehatan Mental: Kecemasan dan Depresi
Menurut Jean Twenge, seorang profesor psikologi di San Diego State University, peningkatan penggunaan media sosial berkorelasi dengan peningkatan tingkat depresi dan kecemasan, terutama di kalangan remaja. Dalam bukunya iGen, Twenge menjelaskan bahwa generasi muda yang tumbuh dengan smartphone menunjukkan gejala kesepian dan kecemasan yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.
Sebuah studi oleh Royal Society for Public Health (RSPH) di Inggris juga menyimpulkan bahwa media sosial, terutama Instagram, dapat memperburuk kondisi kesehatan mental dengan menciptakan tekanan untuk tampil sempurna secara fisik dan sosial.
2. Kecanduan Digital dan Penurunan Produktivitas
Dr. Anna Lembke, psikiater dari Stanford University dan penulis buku Dopamine Nation, menjelaskan bahwa media sosial dirancang untuk memicu pelepasan dopamin—zat kimia otak yang terkait dengan rasa senang. Hal ini membuat pengguna cenderung terus menerus mengecek notifikasi, menggulir beranda, dan sulit lepas dari layar. Kebiasaan ini, menurut Lembke, merupakan bentuk kecanduan digital yang bisa mengganggu produktivitas, pola tidur, bahkan hubungan sosial di dunia nyata.
3. Gangguan pada Interaksi Sosial
Sherry Turkle, profesor dari MIT dan penulis buku Reclaiming Conversation, menyatakan bahwa media sosial mengubah cara manusia berinteraksi. Menurutnya, komunikasi digital tidak bisa menggantikan kedalaman dan keaslian percakapan tatap muka. Akibatnya, banyak orang—terutama remaja—mengalami kesulitan dalam membangun empati dan keterampilan sosial.
4. Penyebaran Informasi Palsu dan Polarisasi Sosial
Media sosial juga menjadi tempat subur bagi penyebaran hoaks dan misinformasi. Dr. Siva Vaidhyanathan, pakar media dari University of Virginia, mengungkapkan bahwa algoritma media sosial sering memperkuat konten yang memancing emosi ekstrem, seperti kemarahan atau ketakutan, untuk meningkatkan interaksi. Hal ini memperburuk polarisasi politik dan sosial di masyarakat.
5. Dampak pada Citra Diri dan Body Image
Banyak ahli juga menyoroti pengaruh media sosial terhadap citra tubuh. Dr. Phillippa Diedrichs, psikolog dari Centre for Appearance Research, menemukan bahwa eksposur berulang terhadap gambar tubuh ideal di media sosial berkontribusi pada rendahnya kepercayaan diri, terutama di kalangan perempuan muda.
Media sosial adalah alat yang kuat, tetapi seperti alat lainnya, penggunaannya perlu bijak dan seimbang. Para ahli menekankan pentingnya membatasi waktu penggunaan, mengedukasi masyarakat tentang literasi digital, serta meningkatkan kesadaran akan dampak psikologis yang mungkin timbul. Jika digunakan dengan tepat, media sosial bisa menjadi sarana positif; namun tanpa kontrol, ia dapat menjadi sumber berbagai masalah yang serius.(MR)


















