banner 728x250

Dari Meja Iftar Ke Garda Terdepan, Orari Dan PLN Perkuat Kesiapsiagaan Banjir ParePare

banner 120x600
banner 468x60

CYBERPARE.COM, PAREPARE – Di tengah suasana Ramadhan yang khidmat, langkah konkret penguatan kesiapsiagaan bencana lahir dari sebuah pertemuan sederhana namun sarat makna di Sekretariat Orari Lokal Parepare. Buka puasa bersama yang digelar Organisasi Radio Amatir Indonesia (Orari) setempat, pekan ini, bukan sekadar ajang silaturahmi. Di forum itu, PT PLN Nusantara Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Bakaru menyerahkan bantuan peralatan tanggap darurat untuk memperkuat respons kebencanaan di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Acara dibuka dengan salam dan doa, menandai nuansa religius yang kental. Ketua Orari Lokal Parepare, Bobot Heri Patrio Utomo, menyambut para tamu dan anggota yang hadir, termasuk Manajer PT PLN Nusantara Power UBP Bakaru, Ian Supriyogi, beserta jajaran perusahaan. Sejumlah tokoh internal organisasi dan perwakilan komunitas radio amatir dari wilayah sekitar turut hadir, mencerminkan luasnya jejaring dan soliditas komunitas ini.

Dalam sambutannya, Bobot menegaskan bahwa momentum Ramadhan menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen kemanusiaan. “Motivasi utama kami di Orari adalah pelayanan masyarakat,” ujarnya. Ia menyebut, banyak anggota Orari merupakan pensiunan yang tetap memilih aktif di ruang sosial, khususnya dalam mendukung komunikasi darurat saat bencana.

Penguatan Komunikasi, Kunci Operasi Penyelamatan
Penyerahan bantuan difokuskan pada kebutuhan mendesak di lapangan: peralatan pencarian dan penyelamatan serta perangkat pendukung komunikasi radio. Di antaranya pelampung cincin, tali penolong dengan pelampung, serta perangkat repeater link untuk memperluas jangkauan komunikasi.

Kebutuhan ini bukan tanpa alasan. Bobot menyinggung pengalaman lapangan saat operasi pencarian korban di wilayah Lumpue. Ketika tim masuk lebih jauh ke area terdampak, radio genggam kehilangan sinyal. Akibatnya, komunikasi antara tim lapangan dan pos komando terputus pada momen krusial.

“Tim yang mengetahui titik korban tidak bisa berkoordinasi dengan tim lain karena keterbatasan jangkauan. Situasi seperti ini berisiko besar,” katanya.

Dalam sistem komunikasi radio amatir, repeater berfungsi memperkuat dan memperluas sinyal, terutama di wilayah dengan kontur geografis menantang. Perangkat repeater link yang diserahkan PLN Nusantara Power akan menghubungkan sistem yang sudah ada dengan titik operasi lapangan, sehingga komunikasi dapat berlangsung tanpa jeda selama misi penyelamatan.

Peran radio amatir dalam kebencanaan sendiri telah lama diakui. Di berbagai daerah di Indonesia, jaringan relawan komunikasi sering menjadi tulang punggung informasi saat jaringan telekomunikasi umum lumpuh akibat bencana. Ketersediaan peralatan yang memadai dan operator terlatih menjadi faktor penentu efektivitas respons awal.

Fokus kesiapsiagaan di Parepare tidak lepas dari karakter wilayahnya. Kota ini dalam beberapa tahun terakhir berulang kali dilanda banjir, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Sejumlah peristiwa bahkan menelan korban jiwa dan memicu operasi pencarian yang kompleks.

Dalam forum tersebut, disampaikan pula analisis mengenai penyebab banjir yang kian berulang. Perubahan tata guna lahan dan pembangunan yang masif disebut mengurangi daya serap tanah terhadap air hujan. Ketika curah hujan tinggi, air tidak lagi meresap optimal, melainkan langsung mengalir ke saluran dan sungai kecil yang kapasitasnya terbatas. Luapan pun tak terhindarkan.

Kondisi ini mempertegas pentingnya kesiapan komunitas di tingkat lokal. Peralatan evakuasi air, sistem komunikasi yang andal, serta pelatihan penggunaan alat menjadi rangkaian yang tidak terpisahkan dalam manajemen risiko bencana.

PT PLN Nusantara Power UBP Bakaru, melalui dukungan ini, menempatkan kontribusi perusahaan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial korporasi. Bantuan yang diberikan bukan hanya bersifat simbolik, melainkan investasi strategis untuk memperkuat kapasitas respons masyarakat.

Bagi Orari Lokal Parepare, dukungan tersebut sangat berarti. Organisasi ini selama ini mengandalkan sumber pendanaan terbatas, sebagian berasal dari kegiatan internal seperti buka puasa bersama dan partisipasi anggota. Dengan tambahan peralatan baru, efektivitas dukungan komunikasi dalam operasi tanggap darurat diharapkan meningkat signifikan.

Lebih dari sekadar serah terima barang, forum itu menegaskan pentingnya kolaborasi antara komunitas, dunia usaha, dan pemangku kepentingan daerah dalam menghadapi ancaman bencana. Ketika risiko banjir menjadi keniscayaan akibat perubahan lingkungan dan tata ruang, kesiapsiagaan kolektif menjadi pilihan yang tak bisa ditawar.

Ramadhan di Parepare pun menghadirkan pesan yang lebih luas: bahwa solidaritas sosial bukan hanya diwujudkan lewat santapan berbuka, melainkan juga melalui kesiapan menjaga keselamatan sesama. Di tengah tantangan alam yang kian kompleks, kerja sama dan komunikasi yang terjaga dapat menjadi penentu antara risiko dan keselamatan.(*)

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *