CYBERPARE.COM, JAKARTA — Kinerja sektor pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendapat pujian luas dari seluruh Fraksi Komisi IV DPR RI. Dalam Rapat Kerja di Senayan. Para legislator menilai langkah Kementerian Pertanian (Kementan) berhasil mendorong peningkatan produksi nasional, memperkuat stok pangan, serta mengerek kesejahteraan petani dalam waktu relatif singkat.
Sejumlah anggota dewan menyebut capaian tersebut bukan hanya tampak pada data produksi, namun juga pada perbaikan tata kelola, konsolidasi kelembagaan, dan penanganan masalah lapangan yang dinilai lebih responsif.
Anggota Komisi IV Fraksi Gerindra, Endang Setyawati Thohari, menilai perubahan yang terjadi di sektor pertanian saat ini tergolong paling signifikan dalam tiga dekade terakhir.
“Selama 30 tahun saya di Kementan, baru kali ini merasakan gebrakan yang nyata,” ujar Endang.
Ia mendorong penyusunan grand strategy agar capaian yang kini diraih tidak berubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan, termasuk melalui penguatan penyuluhan dan keberlanjutan komoditas strategis seperti sorgum.
Apresiasi serupa datang dari Fraksi PDI Perjuangan. Anggota Komisi IV, Rokhmin Dahuri, menilai pencapaian swasembada beras tahun ini sebagai tonggak penting, dengan produksi yang dilaporkan mencapai 34,77 juta ton.
“NTP naik dari 111 menjadi 124,3, dan proyeksi realisasi anggaran 93,8 persen. Ini kinerja yang patut diapresiasi,” tegas Rokhmin.
Ia meminta pemerintah melanjutkan agenda swasembada pada komoditas lain, terutama jagung, kedelai, dan tebu, serta memperkuat varietas yang tahan perubahan iklim isu yang kian krusial dalam sistem pangan global.
Dari Fraksi Golkar, Firman Subagyo memuji serapan anggaran Kementan yang telah mencapai 72 persen dan dianggap efektif mendorong sektor produktif.
“Ini harus diteruskan untuk mendukung swasembada pangan,” ujarnya.
Firman juga menekankan tantangan utama yang perlu diantisipasi: anomali cuaca ekstrem, percepatan alih fungsi lahan, dan minimnya regenerasi petani muda tantangan klasik yang masih membayangi masa depan pangan Indonesia.
Anggota Fraksi Gerindra lain, Darori Wonodipuro, menyoroti data BPS yang menunjukkan kenaikan produksi nasional sebesar 13,5 persen.
“Ini capaian luar biasa,” katanya.
Dari Fraksi NasDem, Muhammad Habiburokhman menyebut capaian tahun ini sebagai “legacy” penting bagi sektor pangan nasional.
“Kami ucapkan selamat. Ini menjadi warisan berharga bagi Kementan,” ujarnya.
Sementara itu, Hindun Anisah dari PKB mengapresiasi kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) serta predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang kembali diraih Kementan. Namun ia mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi realisasi anggaran agar kinerja tetap stabil.
Pujian juga mengalir dari PAN, Demokrat, dan fraksi-fraksi lain, yang menilai stabilitas harga komoditas rakyat seperti kopi, penguatan cadangan stok pangan, hingga kebutuhan penyusunan roadmap komoditas bawang putih, kedelai, dan cabai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan ke depan.
Konteks tambahan: Sejumlah tantangan struktural seperti perubahan iklim, fluktuasi harga global, serta tekanan alih fungsi lahan memang menjadi isu yang terus muncul dalam pembahasan Komisi IV setiap tahun. Karena itu, konsistensi program dan perencanaan jangka panjang menjadi poin yang paling sering disorot para legislator.
Menutup rapat kerja, Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa seluruh capaian Kementan merupakan buah arahan Presiden serta kerja kolektif lintas lembaga dan pemerintah daerah.
“Keberpihakan kepada petani tidak berhenti pada capaian tahun ini. Program akan diperkuat secara berkelanjutan, sinkron, dan berbasis kebutuhan lapangan,” tegasnya.
Dengan dukungan politik lintas fraksi dan pertumbuhan indikator utama sektor pertanian, agenda besar kedaulatan pangan nasional disebut memasuki fase krusial di mana kesinambungan program, adaptasi iklim, dan regenerasi petani muda akan menentukan masa depan ketahanan pangan Indonesia.


















