CYBERPARE.COM, MAKASSAR – Provinsi Sulawesi Selatan kembali menghadapi dinamika ekonomi yang menarik di bulan September 2025. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat sebesar 3,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,72. Capaian ini menjadi cermin pergerakan harga yang masih terkendali namun menunjukkan adanya tekanan dari sektor kebutuhan pokok dan jasa pribadi.
Yang menarik, Kabupaten Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi di Sulawesi Selatan, yakni 4,27 persen dengan IHK 110,49, sedangkan Kota Palopo menjadi wilayah dengan inflasi terendah, hanya 2,7 persen dengan IHK 108,52. Perbedaan ini menunjukkan variasi pola konsumsi dan harga antarwilayah yang cukup signifikan di provinsi ini.
BPS mencatat, inflasi year-on-year di Sulawesi Selatan terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 5,52 persen. Sektor ini menyumbang andil terbesar terhadap inflasi dengan kontribusi 1,67 persen.
Komoditas yang paling berpengaruh antara lain beras, tomat, ikan bandeng, bawang merah, dan minyak goreng. Selain itu, sigaret kretek mesin (SKM) dan emas perhiasan juga memberi dorongan signifikan pada kenaikan harga di sektor rumah tangga.
Kenaikan mencolok juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan inflasi tahunan mencapai 10,57 persen. Lonjakan ini sebagian besar disumbang oleh meningkatnya harga emas perhiasan, produk kebersihan pribadi, dan layanan jasa rumah tangga.
Meskipun tekanan tahunan meningkat, secara bulanan (month-to-month/m-to-m) Sulawesi Selatan justru mencatat deflasi sebesar 0,17 persen. Kondisi ini menandakan adanya penurunan harga di sejumlah komoditas pangan menjelang akhir kuartal ketiga.
Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap deflasi ini antara lain tomat, cabai rawit, beras, bawang merah, dan ikan layang. Penurunan harga di sektor-sektor ini dinilai menjadi efek dari melimpahnya pasokan pascapanen serta stabilisasi harga pangan yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Beberapa kelompok pengeluaran lainnya menunjukkan kenaikan harga yang lebih moderat antara lain:
Pakaian dan alas kaki naik 1,17 persen.
Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 0,68 persen.
Kesehatan naik 1,93 persen.
Transportasi naik 0,28 persen.
Pendidikan naik 1,26 persen.
Rekreasi, olahraga, dan budaya naik 1,43 persen.
Namun, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi sebesar 0,58 persen, seiring turunnya harga perangkat teknologi seperti telepon seluler dan laptop/notebook.
Dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dipantau BPS, seluruhnya mengalami inflasi tahunan.
Luwu Timur menjadi daerah dengan tekanan harga tertinggi di Sulsel, sedangkan Palopo menempati posisi terendah. Hal ini menandakan adanya ketimpangan tekanan harga antarwilayah, yang kerap dipengaruhi oleh distribusi barang, daya beli, dan struktur ekonomi lokal.
BPS juga mencatat bahwa tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) atau sejak awal tahun hingga September 2025 berada di angka 2,32 persen, menandakan inflasi tahunan masih relatif terkendali di bawah target nasional.
Kondisi inflasi Sulawesi Selatan bulan September 2025 memberikan dua pesan penting:
Pertama, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pergerakan harga, terutama dari sektor pangan dan jasa. Kedua, deflasi bulanan menunjukkan adanya ruang stabilisasi harga menjelang akhir tahun.
Namun demikian, pengamat ekonomi menilai perlunya kewaspadaan terhadap tren harga emas, pangan pokok, dan kebutuhan pribadi yang masih menunjukkan pola kenaikan tahunan cukup tajam. Langkah penguatan pasokan bahan pokok dan pengawasan distribusi dinilai menjadi kunci menjaga stabilitas inflasi di kuartal akhir tahun.
Inflasi 3,03 persen di Sulawesi Selatan pada September 2025 menandakan ekonomi daerah yang tetap tumbuh dengan tekanan harga yang masih terkendali. Meski demikian, lonjakan di sektor-sektor tertentu terutama makanan dan jasa pribadi menuntut perhatian lebih serius dari pemerintah daerah agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Sulsel berada di persimpangan penting antara stabilitas ekonomi dan tekanan konsumsi rumah tangga. Jika mampu mengendalikan harga komoditas utama menjelang akhir tahun, provinsi ini berpeluang menutup 2025 dengan capaian inflasi yang sehat dan terkendali.(MR)


















