CYBERPARE.COM, PAREPARE — Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Kota Parepare tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Muslim, tetapi juga ruang refleksi atas capaian pembangunan daerah serta penguatan komitmen sosial.
Dalam suasana khidmat yang dipenuhi nuansa kebersamaan, pesan-pesan keagamaan dan arah kebijakan publik berpadu dalam satu panggung besar membangun manusia sekaligus kota.
Dalam sambutan resminya, Wakil Wali Kota Parepare H.Hermanto menegaskan bahwa Idul Fitri 1447H merupakan titik kembali kepada kesucian setelah sebulan menjalani ibadah Ramadan. Ia menekankan nilai-nilai utama yang harus terus dirawat, seperti kesabaran, keikhlasan, pengampunan, dan penguatan persaudaraan antarsesama. “Hari kemenangan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas sosial,” ujarnya.
Lebih jauh, sambutan tersebut juga memuat laporan kinerja pemerintah daerah sejak pelantikan oleh Presiden pada 20 Februari 2025. Di bawah kepemimpinan Wali Kota H. Tasmin Hamid, Pemerintah Kota Parepare disebut telah menjalankan 18 program unggulan yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Program-program tersebut, menurutnya, dirancang untuk menjawab kebutuhan riil warga sekaligus mempercepat terwujudnya visi Parepare sebagai kota maju dan makmur.
Sejumlah indikator pembangunan menunjukkan tren positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mengalami peningkatan, sementara angka kemiskinan dilaporkan menurun. Di bidang kebersihan dan tata kota, Parepare bahkan mendapat pengakuan nasional dengan masuk dalam kategori kandidat kota terbersih terbaik di Sulawesi Selatan serta menempati posisi keenam secara nasional dalam standar kebersihan.
Namun demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan. Keterbatasan fiskal menjadi salah satu hambatan utama, terutama akibat kebijakan efisiensi anggaran dan pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat yang mencapai sekitar Rp100 miliar. Dampaknya terasa pada sejumlah sektor, termasuk penyesuaian rekrutmen tenaga honorer, baik untuk skema P3K penuh waktu maupun paruh waktu.
“Kami menyadari bahwa keterbatasan ini menuntut kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran. Namun komitmen untuk melayani masyarakat tidak akan surut,” kata Wakil Wali Kota. Ia juga menegaskan optimisme pemerintah daerah untuk tetap merealisasikan janji politik yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
Sementara itu, pelaksanaan Salat Idul Fitri yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Parepare di Lapangan Andi Makkasau turut menghadirkan dimensi reflektif yang mendalam. Dalam khotbah bertajuk “Lima Pesan Moral Ramadan”, khatib Ir.H.Kaharuddin Kadir, M.Si yang juga sebagai Ketua DPRD Kota Parepare mengajak jamaah untuk memaknai Ramadhan sebagai “universitas spiritual” yang membentuk karakter manusia beriman.
Ia menyoroti lima nilai utama yang harus dijaga pasca-Ramadan: keikhlasan, disiplin, kepedulian sosial, kejujuran, dan kesabaran. Menurutnya, ibadah tidak akan bermakna tanpa keikhlasan, sementara disiplin yang dilatih selama puasa seharusnya tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga mengingatkan pentingnya empati sosial melalui zakat dan sedekah, serta menegaskan bahwa kejujuran adalah fondasi utama integritas pribadi.
Dalam konteks global, khatib turut mengajak jamaah untuk tidak melupakan penderitaan umat Muslim di berbagai belahan dunia, seperti di Palestina dan Rohingya, yang masih dilanda konflik. Seruan ini menjadi pengingat bahwa solidaritas umat melampaui batas geografis.
Rangkaian ibadah ditutup dengan doa bersama yang memohon keberkahan, ampunan, serta kekuatan iman bagi seluruh umat. Usai kegiatan, panitia menyampaikan sejumlah pengumuman, termasuk ajakan menjaga kebersihan lokasi. Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas organisasi.
Perayaan Idul Fitri di Parepare tahun ini tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga memperlihatkan sinergi antara nilai spiritual dan tanggung jawab sosial. Di tengah keterbatasan dan tantangan, semangat kebersamaan dan optimisme menjadi fondasi utama untuk melangkah ke depan membangun kota yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.


















