banner 728x250

Kekeringan Meluas, Milliaran Anggaran Pengeboran Dinilai Mubazir

banner 120x600
banner 468x60

Editor : Ardiansyah

PAREPARE, Cyberpare.Com — Kekeringan di Kota Parepare makin memprihatinkan dan dampaknya semakin meluas hingga melanda puluhan hektar lahan pertanian yang menjadi sumber pendapatan warga di Akkajangnge. Puluhan hektar tanaman kacang tanah milik warga di Akkajangnge, Kelurahan Lemoe Kecamatan Bacukiki, mulai menguning dan terancam gagal panen.

“Beberapa pekan ini kami mulai kesulitan air untuk menyiram puluhan hektar lahan yang sudah kami tanami kacang tanah. Kondisi tanaman kacang sudah mulai menguning, tanda mengering,” kata Hamsi, petani kacang di Akkajangnge, Rabu (20/9).

Menurut Hamsi, satu satunya harapan para petani di Akkajangnge, hanya mengandalkan pengairan dari waduk sekitar yang juga mulai mengering. Petani di Akkajangnge saat ini sangat membutuhkan bantuan berupa mesin pemompa air untuk mengairi lahan kacang tanah milik warga setempat.

Kondisi kekeringan ini pun menuai reaksi keras dari pemerhati lingkungan, Hamri Kalbu. Dia menyebut bahwa puluhan milliar anggaran yang digelontorkan pemerintah daerah membuat sumur bor tahun lalu dinilai sebagai langkah yang kurang tepat. Bahkan tahun ini pemerintah daerah kembali menganggarkan Rp 20 miliar untuk pembangunan 7 titik sumur bor dalam.

Menurut Hamri, terkait solusi kekeringan seharusnya pemerintah lebih menghimbau kepada masyarakat dan seluruh stakeholder terkait lingkungan melakukan konservasi alam, salah satunya melakukan penyelamatan mata air dengan cara penanaman pohon karena kondisi alam di Parepare sangat minim resapan air yang dikarenakan rusaknya hutan.

“Kekeringan karena minimnya resapan air dan saat musim kemarau air di bawah tanah tidak ada karena tidak ada pohon sebagai resapan dan ketika hujan air mengalir ke laut. Khususnya bendungan PDAM seharusnya lokasi di sana dijadikan hutan lindung dan bantaran sungainya harus dijaga,” urainya.

Dia pun sangat menyayangkan kondisi kekeringan di Parepare, padahal sudah menghabiskan puluhan milliar anggaran namun dinilai kurang efektif dan terkesan mubazir. “Mari kita lestarilan mata air sebelum menjadi air mata. Jangan sampai nantinya masyarakat menangis karena kehabisan air,” pungkasnya. (ardi)

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *