banner 728x250

Maulid Nabi di BTN Pepabri Parepare, Warga Diajak Meneladani Akhlak Rasulullah dan Memperkuat Kerukunan

banner 120x600
banner 468x60

CYBERPARE.COM, PAREPARE — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Nurul Mujahidin, BTN Pepabri, Kota Parepare, menjadi momentum bagi warga untuk kembali menghidupkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan yang digelar Selasa (8/9/2026) itu diikuti Pengurus Masjid Nurul Mujahidin, Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), serta warga BTN Pepabri dan lingkungan ORW 008. Selain menjadi bagian dari peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegiatan tersebut juga menjadi ruang mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.

Ketua RW 008, Sahrun Mubarak Assaad, menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga dan panitia yang telah berkontribusi mempersiapkan kegiatan tersebut.

Ia menilai keterlibatan warga menjadi salah satu faktor penting sehingga rangkaian peringatan Maulid dapat berlangsung lancar, tertib, dan aman.

“Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh warga, termasuk panitia, yang telah berkontribusi mempersiapkan acara sehingga dapat berjalan dengan lancar, tertib, dan aman,” kata Sahrun dalam sambutannya.

Hikmah Maulid disampaikan Ustaz Andi Hasanuddin, S.T. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui pengamalan akhlaknya.

Menurut dia, keteladanan Rasulullah relevan diterapkan dalam berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, hubungan antartetangga hingga kehidupan bermasyarakat.

Ia menekankan sejumlah sifat yang melekat pada keteladanan Rasulullah, antara lain kelembutan, kesopanan dalam berbicara, sikap mudah memaafkan, kemurahan hati, gemar membantu, serta membangun hubungan dengan senyum dan keramahan.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, menjadi fondasi penting dalam membangun keluarga yang harmonis. Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, ucapan yang kasar dapat memicu konflik, sementara tutur kata yang baik dan menyenangkan dapat memperkuat hubungan antara pasangan.

Karena itu, ia mengajak jamaah mengikuti sunnah Rasulullah sebagai wujud kecintaan kepada Nabi sekaligus berupaya menghadirkan akhlak tersebut dalam perilaku sehari-hari.

Dalam ceramahnya, Ustaz Hasanuddin juga mengingatkan jamaah bahwa kebaikan tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar.

Senyum, keramahan, perhatian, serta kesediaan membantu orang lain merupakan bentuk kebaikan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mendorong warga untuk membangun kebiasaan saling membantu dengan ketulusan, tanpa menjadikan pemberian sebagai sarana memperoleh pujian atau imbalan. Kebaikan, menurutnya, semestinya dilakukan karena Allah dan tidak diikuti tindakan yang dapat melukai perasaan penerima.

Ia juga mengingatkan pentingnya memberikan sesuatu yang layak ketika bersedekah. Pemberian kepada orang lain sebaiknya bukan sekadar barang yang sudah tidak digunakan atau dalam kondisi tidak baik, melainkan sesuatu yang pantas dan bermanfaat bagi penerimanya.

Dalam konteks keluarga, ia menekankan bahwa dukungan dan bantuan antarpasangan juga memiliki nilai kebaikan apabila dilakukan dengan ketulusan.

Menurut Ustaz Hasanuddin, tetangga sering kali menjadi pihak yang paling cepat memberikan bantuan ketika seseorang menghadapi kesulitan. Kedekatan geografis membuat hubungan antarwarga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial.

Karena itu, ia mengimbau jamaah agar tidak melakukan tindakan yang mengganggu kenyamanan tetangga dan selalu mempertimbangkan perasaan orang lain.

Salah satu hal yang disinggung adalah penggunaan perangkat audio dengan volume berlebihan yang berpotensi mengganggu rumah-rumah di sekitar.

Kehidupan bertetangga, kata dia, seharusnya dibangun dengan sikap saling menghormati dan membantu. Namun, kebiasaan meminta bantuan juga perlu disertai kemandirian agar pertolongan tidak berubah menjadi ketergantungan.

“Ketika masyarakat bersatu, pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, tanpa persatuan, pekerjaan yang ringan pun dapat terasa berat,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam ceramah tersebut.

Dalam bagian lain ceramah, Ustaz Hasanuddin mengangkat Piagam Madinah sebagai salah satu konteks sejarah mengenai pentingnya membangun kehidupan bersama yang mengedepankan persatuan, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Ia mengingatkan pentingnya memperlakukan sesama secara adil tanpa diskriminasi serta menghormati kebebasan menjalankan keyakinan masing-masing.

Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan agama maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling mengganggu. Sebaliknya, setiap warga perlu menjaga batas, menghormati praktik keagamaan masing-masing, dan membangun kehidupan sosial yang damai.

Pesan tersebut dinilai relevan dengan kehidupan warga yang hidup berdampingan dalam satu lingkungan.

Lebih dari sekadar agenda keagamaan, peringatan Maulid juga menjadi ruang bagi warga untuk kembali bertemu, saling mengenal, menyapa, dan memperkuat silaturahmi.

Kesibukan dan perbedaan jadwal pekerjaan sering membuat interaksi antarwarga menjadi terbatas. Pertemuan seperti Maulid membuka kembali ruang komunikasi yang mungkin jarang terjadi dalam keseharian.

Ustaz Hasanuddin mengingatkan jamaah agar memperbanyak persahabatan dan menghindari permusuhan. Hubungan sosial yang baik, menurutnya, tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan bermasyarakat.

Ia turut menyampaikan pentingnya menjaga silaturahmi sebagai bagian dari ajaran Islam, termasuk keyakinan bahwa silaturahmi dapat menjadi jalan datangnya keberkahan dalam kehidupan.

Ustaz Hasanuddin mengingatkan jamaah agar kebaikan tidak dilakukan demi pengakuan, pujian, maupun balasan dari manusia. Amal yang baik seharusnya dilakukan dengan ikhlas dan tidak perlu terus-menerus diingatkan kepada orang lain.

Ia menggambarkan perbedaan antara pemberian yang dilakukan karena ketulusan dan pemberian yang disertai harapan memperoleh keuntungan tertentu.

Karena itu, ia mengajak warga menjadikan setiap kebaikan sebagai bagian dari pembentukan karakter, bukan sebagai alat untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di BTN Pepabri pun ditutup dengan pesan sederhana tetapi mendasar: kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup diucapkan, melainkan perlu dibuktikan melalui akhlak, kepedulian, ketulusan, dan kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin sibuk dan beragam, nilai-nilai tersebut menjadi pengingat bahwa keharmonisan sebuah lingkungan tidak hanya dibangun oleh kedekatan tempat tinggal, tetapi juga oleh kesediaan untuk saling menghormati, membantu, dan menjaga hati satu sama lain.

 

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *