Editor : Ardiansyah
PAREPARE, Cyberpare.Com — Warga yang berdomisili dan beraktifitas di sepanjang Pelabuhan Nusantara, Jalan Bau Massepe dan Mattirotasi Kota Parepare sangat resah dan terganggu dengan adanya orang “gila” yang sehari-hari mondar mandir di kawasan itu. Parahnya lagi, orang gila itu bugil tanpa sehelai pakaian pun melekat di badannya.
Bahkan terkadang ia beraksi dan membahayakan pengguna jalan karena kerap teriak dan sesekali meludahi pengendara yang melintas di sampingnya. “Tentunya menjadi perhatian tidak sedap bagi warga yang lalu lalang, selain ia “telanjang” juga biasa teriak dan meludahi orang atau pengendara yang lewat,” jelas Nurdin, salah seorang warga di sekitar Pelabuhan Nusantara, Sabtu (16/9/2017).
Menyandang Predikat Kota Sehat, tentunya keberadaannya di Parepare sangat bertentangan. Pemerintah Kota pun diminta mencarikan solusi atau mencari tahu keluarganya karena dikabarkan masih mempunyai keluarga di Parepare.
“Sudah beberapa kali kami tangkap dan amankan orang gila ini. Setiap saat anggota kami berpatroli dan mengamankan. Setelah kami bawa ke kantor dan kita bawa ke rumah sakit, akhirnya kembali lagi dan ini disebakan karena tidak adanya data dan identitas si org gila ini,” jelas Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan Daerah Dinas Satpol PP Kota Parepare Muh Syafruddin Sjam.
Hal Senada dikatakan Kasi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Ariyadi, bahwa pihaknya sudah beberapa kali mengamankan orang gila yang satu ini. “Tapi yah begitu saja, kembali lagi karena pihak RSUD tidak memberi pengantar ke rumah sakit Dadi di Makassar apabila tidak memiliki identitas dan keluarga yang mendampinginya ke Makassar,” terangnya.
Kendati sangat meresahkan dan mengganggu ketertiban umum, pihak Satpol PP dan RSUD terkendala masalah identitas dan keluarga orang gila itu untuk keperluan merujuk ke RS Dadi Makassar. “Masa kita mau simpan terus di kantor. Kalau ada-apanya siapa yang mau bertanggung jawab? Makanya perlu koordinasi antara Dinas Kesehatan dan pihak RSUD. Kalau kita kan tugas pokoknya hanya mengeksekusi,” pungkas Ariyadi. (ardi)


















