banner 728x250

Ortu Siswa SDN 20 Parepare Gelar Aksi Tolak Pengunduran Diri Kepsek, Minta Disdikbud Turun Tangan

banner 120x600
banner 468x60

CYBERPARE.COM, PAREPARE – Puluhan orang tua siswa SDN 20 Parepare, Sulawesi Selatan, menggelar aksi demonstrasi di halaman sekolah pada Selasa (18/11/2025).

Mereka menolak rencana pengunduran diri Kepala Sekolah Firman Suaib setelah yang bersangkutan terlibat cekcok dengan sejumlah guru. Aksi itu berlangsung tertib, namun menyuarakan desakan kuat agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Parepare tidak memindahkan Firman dari jabatannya.

Para orang tua siswa membawa spanduk penolakan sambil berorasi menegaskan bahwa kepemimpinan Firman selama ini dianggap membawa perubahan signifikan bagi sekolah tersebut. Mereka meminta persoalan internal antara kepala sekolah dan guru diselesaikan tanpa harus mengganti pimpinan sekolah.demo01

Setelah berorasi, para orang tua diminta mengikuti proses mediasi yang dipimpin Sekretaris Disdikbud Parepare, Johansah, bersama kepala sekolah dan empat guru terkait. Dalam dialog itu, para orang tua menyuarakan keresahan mereka.

“Kami mempertahankan kepala sekolah kami karena anak-anak sudah merasa nyaman belajar bersama beliau. Kami menolak kepala sekolah mengundurkan diri,” ujar Bulan, salah satu orang tua siswa.

Bulan mengklaim kepala sekolah ingin mundur karena merasa “diintimidasi” dan terus-menerus dilaporkan oleh beberapa guru. Menurutnya, ketegangan itu membuat suasana sekolah tidak kondusif. Ia juga meminta Disdikbud mengambil langkah tegas.

“Sudah capek katanya, selalu diintimidasi. Kami minta empat guru itu dipindahkan supaya sekolah tenang,” tambahnya.

Para orang tua bahkan mengancam akan memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain jika Firman diganti. Mereka juga menyatakan siap menyegel sekolah sebagai bentuk protes.

“Apabila kepala sekolah dikeluarkan, anak-anak kami tarik dan sekolah ini mogok,” tegas Bulan.

Sejumlah orang tua menilai SDN 20 Parepare mengalami banyak kemajuan di bawah kepemimpinan Firman. Mereka menyebut sekolah yang sebelumnya kerap mendapat cap sebagai “sekolah pembuangan” kini menunjukkan peningkatan disiplin, tata kelola, hingga prestasi siswa.

“Luar biasa perkembangannya. Dulu sekolah ini tempat pembuangan anak yang tidak diterima di sekolah lain,” ujar Bulan menambahkan.

Di banyak daerah, dukungan masyarakat terhadap kepala sekolah bukan hal baru. Kinerja pimpinan sekolah sering menjadi faktor kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang stabil, dan konflik internal kerap berimbas langsung pada dinamika pembelajaran.

Sekretaris Disdikbud Parepare, Johansah, menjelaskan bahwa cekcok antara guru dan kepala sekolah berawal dari miskomunikasi yang dibiarkan berlarut. Menurutnya, persoalan kecil terkait fasilitas sekolah memicu konflik yang membesar.

“Ada komunikasi yang mestinya dibahas secepatnya, tapi tidak dilakukan. Akhirnya persoalan kecil
soal colokan listrik saja menjadi meluas,” ujarnya.

Disdikbud, kata Johansah, bergerak cepat dengan memediasi kedua belah pihak agar proses belajar mengajar tidak terganggu oleh suasana tegang atau kehadiran aparat keamanan selama aksi berlangsung.

“Kami meminta perwakilan orang tua masuk berdiskusi supaya anak-anak tidak trauma melihat banyak polisi atau keramaian,” jelasnya.

Disdikbud Parepare memastikan mediasi akan berlanjut hingga ditemukan solusi yang adil bagi semua pihak. Pemerintah daerah juga menegaskan pentingnya menjaga stabilitas lingkungan belajar, terutama di sekolah dasar yang rentan terhadap gangguan psikologis akibat konflik orang dewasa.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa relasi internal sekolah perlu dijaga melalui komunikasi terbuka dan penyelesaian konflik yang profesional. Harapan para orang tua jelas sekolah tetap aman, nyaman, dan terus berkembang tanpa harus terjebak perselisihan berkepanjangan.(*)

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *