banner 728x250

Soedarmono, Anak Petani Untuk Petani  Caleg PBB Dapil Bacukiki 

banner 120x600
banner 468x60

PAREPARE, Cyberpare.com — Berlatar belakang dari keluarga Petani, tentunya yang namanya petani sedikit banyaknya sudah dipahami dan dimengerti.

Namun,sebagai anak petani,Sudarmono tidak pernah mengurungkan niat untuk terus belajar dan mencari pekerjaan dengan harapan dapat mengubah nasib.

Hal itu dibuktikan usai lulus sekolah di tingkat menengah pertama ( SMP) dan melanjutkan pendidikan di tingkat sekolah menengah atas ( SMA) di Madrasah Aliah Negeri ( MAN) 2 Parepare, namun karena keterbatasan ekonomi, Sudarmono terpaksa putus sekolah dan fokus membantu orang tua turun ke sawah.

Namun, Nasib berkata lain, Sudarmono harus merelakan Kepergian Orang tua Lelakinya sejak Tahun 2000 lalu karena meninggl dunia.

Kondisi ini mengaruskan Sudarmono  menjadi tulang punggung keluarga untuk menggantikan bapaknya mencari nafkah bagi keluarganya. Semangat dan motivasi yang dibangun tidak pernah redup untuk mengubah nasibnya.

Dan sejak 2010 lalu, Sudarmono masuk sebagai tenaga sukarela di salahsatu Sekolah Dasar yang berada tak jauh dari rumahnya.

Dari situlah awalnya niat untuk melanjutkan pendidikannya kembali muncul, dengan mengikuti program Paket C (SMA Sederajat),kemudian melanjutkan pendidikannya di salahsatu perguruan tinggi swasta, namun kondisi itu belum bisa memberikan sesuatu yang berarti.

Hingga 2015, Sudarmono banting stir menjadi kuli tinta di salahsatu Perusahaan Media Harian Lokal di Parepare (tepatnya di Harian PARE POS), sejak jadi reporter di PARE POS banyak pengalaman yang didapatkan,seperti saat meliput tentang kebutuhan petani.

Dari pengalaman tersebut Dia (Sudarmono) mengetahui masalah yang terjadi dilingkungan petani.

Sebagai reporter yang selalu bersentuhan langsung dengan masyarakat juga menjadi pembelajaran baginya.

Semangat dan motivasinya tetap berkobar dan fokus untuk memikirkan masyarakat,sehingga pada pesta demokrasi yang akan digelar April 2019 mendatang yakni pemilihan anggota DPR menarik perhatiannya untuk ikut berkompetisi.

Tentu modal yang dibutuhkan untuk menjadi Anggota DPR tidak cukup hanya pengalaman jadi reporter harian dan pendidikan saja, Tetapi pengalaman politik juga menjadi modal dasar untuk ikut bertarung pada Demokrasi yang digelar setiap lima tahun sekali tersebut.

Bercerita politik Sudarmono juga sudah paham dan mengerti, awal kariernya didunia politik sejak di ikut melalui Partai NasDem Kota Parepare dengan posisi Garda Muda Partai NasDem, Namun Polemik Internal partai yang sempat bergeliat di Partai NasDem diapun diangkat menjadi pengurus Ranting Kelurahan Lemoe, dan mengawal proses pemilihan Anggota DPRD Kota Parepare pada priode 2014-2019 lalu.Namun karier di partai NasDem tidak dapat dipertahankan karena gejolak pengurus internal, sehingga Ia memilih bergabung di Partai Perindo besutan Harytanu Sudibyo.Lagi-lagi gejolak pengurus internal yang tidak komitmen pada visi misi dan anggaran dasar partai membuatnya minggat dan bergabung di PBB sebagai kendaraan politiknya maju di Pilcaleg 2019-2024.

Komitmen yang dibangun pada pemilihan Anggota DPRD priode 2019-2024 dengan mengambil bagian dan menyusun Visi dan Misi dengan Maksud.

‘Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Menuju Petani Yang Berdaya Saing’ dengan langkah

1). Mendorong percepatan bantuan Petani yang tepat sasaran.

2). Meningkatkan SDM Petani dengan memberikan Diklat bagi Kelompok Tani.

3).Membangun infrastruktur pertanian dengan mendorong penambahan irigasi dan jalan tani.

4).Menyusun regulasi untuk mengatur jual beli hasil panen yang memberikan keuntungan bagi petani.

5.Membangun mitra kerja untuk membantu permodalan petani dengan mendirikan koperasi pertanian yang dikelola Kelompok Tani.

“Persoalan yang dialami petani saat ini bersifat dasar, mulai dari infrastruktur dan modal,dengan demikian pembangunan infrastruktur dan pemberian modal bagi petani harus terpenuhi,” Terangnya.

Menurutnya,selain itu,bantuan petani seperti Alsintan, Bibit dan pupuk bagi Petani, ditemukan masih ada pihak yang memonopoli,sehingga banyak petani yang tidak dapat menikmati bantuan tersebut.

“Banyak kelompok tani yang abal-abal,artinya Kelompok tani itu dibentuk hanya untuk mendapatkan bantuan” Jelas Penduduk Asli Bacukiki ini. (Mas / Effendy)

banner 800x800

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *